Jangan Berputus Asa

JANGAN PUTUS ASA


#Hadist II
Seorang yang berbuat jahat yang senantiasa mengharap rahmat Allah SWT lebih dekat kepada Allah dari pada ahli ibadah yang memutuskan rahmat-Nya.

#Hikayat I
Diriwayatkan oleh Zayd bin Aslam dari Sayyidina 'Umar ra, bahwa pada masa umat terdahulu ada seorang laki-laki yang sangat rajin dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah SWT. namun

orang tersebut memutuskan rahmat Allah bagi orang lain. Setelah meninggal dunia, orang tadi bertanya kepada Allah, "wahai Tuhanku, apa bagian yang telah Engkau siapkan untukku?" Alloh menjawab "neraka". Lalu ia bertanya lagi "lalu di mana ibadah dan kesungguhanku menyembah-Mu". Allah menjawab "di dunia engkau telah memutuskan rahmat-Ku bagi orang lain, maka hari ini Aku memutuskan rahmat-Ku bagimu".

#Hikayat II
Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW bahwa ada seorang laki-laki yang tidak pernah melakukan kebaikan sama sekali kecuali Tauhid ( mengesakan Allah ). Ketika telah dekat kematiannya, dia berkata pada keluarganya, “ketika aku telah mati, bakarlah aku, sehingga aq menjadi abu, kemudian tebarlah abuku ke laut dihari yang anginya kencang”.

Maka keluarganyapun melakukan hal tersebut. Dan ketika dia telah berada di kekuasaan Allah SWT. Allah berkata, “Apa yang kamu bawa dari perbuatanmu?”.

Dia berkata, “takut kepada-Mu”. Maka Allah mengampuninya dengan hal tersebut, dan dia tidak pernah melakukan kebaikan kecuali Tauhid.


#Hikayat III
Diceritakan pada zaman Nabi Musa As. ada seorang fasik (orang yang suka melakukan maksiat) yang meninggal dunia, orang-orang disekitarnya enggan memandikan dan menguburnya karena ulah buruk yang sering ia lakukan. Mereka pun menyeret kakinya dan membuangnya di tempat penampungan sampah. Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa “Wahai Musa, pada suatu perkampungan ada seseorang yang meninggal dunia dan dibuang di tempat penampungan sampah. Orang itu adalah salah satu dari kekasih-Ku. Tetapi orang-orang disekitarnya enggan untuk memandikan, mengkafani, dan menguburnya. Maka pergilah kamu, kemudian mandikan ia, berikan kafan dan sholatilah ia, setelah itu kuburlah ia..!”.

Kemudian Nabi Musa As. pun segera pergi mencari dan menemui penduduk perkampungan tersebut. Beliau bertanya kepada penduduk kampung tersebut tentang mayat seorang laki-laki yang dibuang di tempat penampungan sampah. Mereka mengatakan bahwa telah meninggal dunia seorang dengan sifat yang buruk. Ia adalah orang yang terang-terangan dalam melakukan kefasikan. Nabi Musa berkata “Dimana tempatnya ? karena sesungguhnya Allah telah memberikan wahyu kepadaku tentang orang tersebut.”. Para penduduk kampung pun segera mengantarkan Nabi Musa ke tempat dimana mayat orang tersebut dibuang.

Setelah sampai pada tempat penampungan sampah tersebut, Nabi Musa melihat mayat seseorang yang dibuang disana. Penduduk kampung tersebut mengatakan kepada beliau tentang keburukan akhlaq orang itu.

Kemudian Nabi Musa bermunajah kepada Allah “Wahai tuhanku, Engkau telah memerintah kepadaku untuk menyolati dan menguburnya, tetapi para penduduk telah memberi kesaksian buruk terhadapnya. Maka Engkau lebih mengetahui dari pada mereka atas kebaikan dan keburukannya !!!”.

Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa “Wahai Musa, benar apa yang telah diceritakan para penduduk atas keburukan tentangnya. Tetapi ia telah memohon pertolongan kepada-Ku dengan tiga perkara saat menjelang kematiannya. Jikalau semua para pendosa meminta kepadaku dengan tiga perkara tersebut, niscaya aku akan memberikannya, sedangkan ia hanya meminta seorang diri. Dan Aku adalah dzat yang lebih pengasih dari semua orang yang pengasih...!!!”.

Nabi Musa pun bertanya “Wahai tuhanku, apa tiga perkara tersebut ???”.
Allah pun berkata: Ketika telah dekat waktu kematiannya, ia berdo’a “Wahai tuhanku, Engkau mengetahui tentangku. Sungguh aku telah melakukan maksiat, sedangkan di dalam hatiku membenci melakukannya. Tetapi telah menyatu tiga perkara sehingga aku melakukan maksiat sedangkan hatiku membencinya, yaitu hawa nafsu, teman yang buruk, dan iblis laknatullah dan tiga perkara ini yang menjadikan aku senang melakukan maksiat. Wahai tuhanku, sesungguhnya Engkau mengetahui tentangku atas apa yang telah aku ucapkan, maka ampunilah aku !!!”. Kedua, ia berdo’a “Wahai tuhanku, sesungguhnya Engkau mengetahui aku melakukan maksiat dan tempatku bersama orang-orang fasik. Tetapi aku senang bergaul dengan orang-orang yang sholeh, dan tempatku bersama orang-orang sholeh lebih aku sukai dari pada bersama orang-orang fasik !!!”. Ketiga ia berdo’a “Wahai tuhanku, Engkau mengetahui bahwa aku lebih suka bersama dengan orang-orang yang sholeh daripada bersama orang-orang yang fasik, sehingga jika aku bertemu dengan dua orang, seorang yang sholeh dan seorang pembual, maka aku akan mendahulukan kepentingan seorang yang sholeh daripada seorang pembual. Wahai tuhanku, jika Engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku, maka para kekasih dan para nabi-Mu akan turut senang, sedangkan syetan musuhku dan mush-Mu akan bersedih karenanya. Tetapi jika engkau menyiksaku, maka syetan beserta kawan-kawannya akan turut senang, sedangkan para nabi dan kekasih-Mu akan bersedih. Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kegembiraan para kekasih-Mu lebih Engkau cintai daripada kegembiraan syetan dan kawan-kawannya, maka ampunilah aku !!! Ya Allah, sesungguhnya engkau mengetahui atas apa yang telah aku ucapkan, maka ampunilah aku dan kasihanilah aku”. Kemudian Aku mengasihani dan mengampuninya karena sesungguhnya Aku adalah dzat yang penyayang dan pengasih bagi orang yang mengakui dosa-dosanya dihadapa-Ku. Dan orang ini telah mengakui dosanya, maka aku mengampuni dan mengasihaninya. Wahai Musa, lakukan apa yang telah aku perintah karena sesungguhnya demi menghormatinya, aku mengampuni orang yang mau menyolati dan mengubur jenazahnya !.

Kemudian Nabi Musa beserta segenap penduduk kampung memandikan, memberi kafan dan menyolati serta mengubur jenazah orang tersebut, berharap mereka semua akan mendapat ampunan dari Allah tuhan semesta alam.


#Hikmah
KIsah teresbut menyiratkan pesan agar kita selalu berhusnudzon kepada Allah SWT, jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah, serta jangan pernah memutuskan haprapan seseorang dari Rahmat Allah.
Allah Berfirman :
"Katakanlah (wahai Muhammad): "Wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri (dengan perbuatan-perbuatan maksiat), janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya Allah mengampunkan segala dosa sesungguhnya Dia Yang Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani."
" Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir."
"Ibrahim berkata: Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat."

https://www.facebook.com/kajianbukuislami

Related Posts:

0 Response to "Jangan Berputus Asa"

Post a Comment