Wafatnya isa al Masih atau Sibhi Isa al Masih??






Kalau kita melihat kalender Masehi tanggal 29 Maret, adalah  sudah umum ditandai sebagai hari wafat isa al-masih, ada juga yang menulis syibhi
isa al-masih (yang menyerupai isa almasih). Terlepas dari pertanyaan manakah diantara keduanya yang paling benar, perlu diketahui sejarah yang mendasari hal tersebut.
Salah satu kisah masa lalu yang mempunyai banyak versi adalah kisah penyaliban Nabi Isa a.s. Masing-masing agama samawi punya versi-versi sendiri. Pada kaum Nabi isa a.s dan mayoritas orang romawi sendiri, masih mempunyai keraguan melihat peristiwa penyaliban itu, seperti yang terdapat dalam injil ummat nasrani.
Namun keraguan tersebut tidak terlalu mempengaruhi mereka apakah Isa a.s itu dibunuh dan disalib. Hanya saja orang terdekat Nabi Isa yang disebut sebagai kalangan Hawariyin menyaksikan sendiri bahwa setelah periswa penyaliban itu Nabi Isa a.s masih hidup. Informasi ini seperti terdapat pada injil Lukas sebagai berikut:
“Ketika mereka sedang berbincang soal hal itu, Isa sendiri yang berdiri di tengah-tengah mereka. Ia berkata pada mereka, ‘salam sejahtera untuk kalian.’ Mereka pun kaget, takut dan mengira sedang melihat roh. Isa pun bertanya kepada mereka, ‘mengapa kalian terlihat kebingungan? Apa yang sedang bekecamuk didalam pikiran kalian? Lihatlah kedua tangan dan kedua kakiku. Ini aku. Periksalah aku dan lihatlah. Roh itu tidak punya daging dan tulang, sepetiyang kalian lihat sekalian.’ Ketika mengatakan itu, isa menunjukan kedua tangan dan kakinya pada mereka. Ketika mereka masih belum percaya dan masih terheran-heran,Isa berkata kepada mereka, ‘Apakah kalian punya makanan disini?’. Mereka pun menghidangkan sebagian ikan bakar dan sedikit madu. Isa pun mengambilnya dan memakan dihadapan mereka.”
 Menurut kaum hawariyin, mereka sendiri yang menemui Isa setelah kejadian penyaliban Isa itu lengkap dengan jsad dan rohnya dalam keadaan hidup dan diberkati rezeki. mereka tidak menemukan penjelasan memadai atas kontradiksi ini selain apa yang mereka katakan, “Dia disalib, meninggal dikebumikan, kemudian dibangkitkan ditengah-tengah orang yang sudah mati.”
Alquran datang  untuk menguak misteri itu dan ketidak jelasan pun hilang. AllahSWT berfirman:
“Dan karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.”(An nisa’ : 157-158)”
Para mufassir punya pendapat yang berbeda dalam menafsirkan ayat tersebut. Kata Syubbiha (diserupakan) dalam ayat tersebut membuat para mufassir memberikan penjelasan yang bermacam-macam namun identik.
Kiyahi Bisyri Mustofa, menjelaskan dalam tafsir Al-Ibriz bahwa yang diserupkan itu adalah salah seorang dari orang yahudi sendiri yang ingin membunuh nabi isa. Sedangkan Nabi Isa a.s diangkat oleh Allah berkumpul dengan para malaikat.
 Ibnu kasir  dalam tafsirnya, mengutip pendapat ibnu abbas mengenai kata tersebut. Dia menjelaskan bahwa nabi Isa a.s meminta salah seorang sahabatnya untuk diserupakan dengan Nabi Isa dengan imbalan nanti akan diberi hadiah surga bersamanya. Dan Nabi Isa a.s. sendiri diangkat oleh Allah.
Dalam buku elektronik The Passion of Jesus yang penulisnya anonim mengatakan bahwa, dari sudut bahasa perkataan syubbiha lahum bukan berarti Nabi Isa disamarkan (diganti) dengan orang lain, hal ini tidak tepat karena sebelum lafad syubbiha tidak disebut nama seseorang yang telah diserupakan dengan Nabi Isa a.s, padahal disini ada lafad syubbiha yang majhul dan dalamnya ada dhamir mufrad yang mustatir. Dan menurut hukum nahwu dhamir itu harus terdahulu sebutannya dengan lafad atau makna atau hukum. Dan apabila na’ibul fa'il kata syubbiha disebutkan maka itu akan berarti bahwa Nabi Isa a.s. lah yg diserupakan wajahnya menjadi rupa orang lain, bukan orang lain yang diserupakan menjadi wajah Nabi Isa a.s. Ringkasnya bukanlah rupa beliau yang disamarkan dengan orang lain, melainkan keadaan (kondisi) beliaulah yang diserupakan/samarkan seolah-olah telah mati.”
Pendapat ini juga menjelaskan bahwa yang disalib memang Nabi Isa a.s, dan ketika itu orang-orang yahudi yang menyalib beliau mengira bahwa Nabi Isa telah meninggal. Dan disinilah letak makna “syubbiha” yaitu, yang diserupakan adalah keadaannya Nabi Isa a.s yang seperti telah meninggal. Padahal beliau masih hidup yang kemudian diturunkan dari salib dan dirawat ditempat yang tersembunyi. Tetapi orang-orang Nasroni dan Yahudi pada waktu itu, dan sampai sekarang menganggap bahwa Nabi Isa a.s mati karena disalib.
Pendapat ini juga didukung oleh pendapat Hj. Irene Handono seorang mantan biarawati yang masuk islam pada tahun 1983 dan sekarang menjadi Ustadzah. Dia menuturkan bahwa pendapat yang mengatakn lsa Al Masih tidak disalib, tetapi yang disalib sampai mati adalah Yudas Iskariot alias Yahuda Askhariyuti. Pendapat seperti ini sulit dipertanggungjawabkan sebab Al-Qur'an sama sekali tidak pernah menyebut atau mengkisahkan nama tersebut. Dan beliau berpendapat seperti pendapat diatas.
Terlepas dari perbedaan makna kata Syubbiha, Semua kaum muslimin sepakat bahwa Nabi Isa a.s. tidak meninggal karena disalib. Dengan demikian berarti tanggal 29 Maret bukan hari wafatnya Nabi Isa a.s.




gambar : pendoasion.files.wordpress.com


(Bulletin Ar Raudlah, 01 April 2013)

Related Posts:

0 Response to "Wafatnya isa al Masih atau Sibhi Isa al Masih??"

Post a Comment